Kamis, 04 Agustus 2011

Sekolah Bulan Puasa Belum Tentu Efektif

SMA Negeri 1 Teluk Kuantan Kab.Kuantan Singingi tahun ini mengubah pola pembelajaran selama Ramadhan dari hanya melaksanakan pesantren kilat ke pembelajaran normal dengan penambahan jam pelajaran agama Islam ( membaca Al-Quran). Jadwal belajar mulai pukul 08.00 hingga pukul 12.30 WIB.

Kepala SMAN 1 Teluk Kuantan mengatakan, ada tiga hal yang melatarbelakangi mengapa pola baru ini diberlakukan. Pertama, untuk menghindarkan anak-anak usia sekolah menghabiskan waktunya di warnet-warnet.


Kedua, kegiatan pesantren kilat yang dilaksanakan selama ini dinilai kurang efektif. Sebab, tidak seluruh siswa ikut terlibat dalam pesantren kilat.


Ketiga, dengan belajar selama Ramadhan, siswa akan diberikan kesempatan membaca Al-quran atau yang lazim disebut dengan istilah Tadarus. Ini sekaligus dimaksudkan untuk menghindari pendangkalan akidah di kalangan siswa.


Kebiasaan kaum muslim di Teluk Kuantan bulan Ramadhan adalah tidur sedikit dan bangun lama di malam hari untuk aneka ibadah pembersihan diri. Proses ini harus dilakukan sejak dini, sejak usia sekolah. Makanya, di siang hari perlu dilonggarkan dari aneka beban formal sekolah.


Tetapi di negara-negara maju sekalipun, misalnya yang mempunyai empat musim seperti Jepang, hingga kini tetap menerapkan libur panjang sekolah selama musim panas. Alasannya, selama musim panas produktivitas rendah karena orang lebih cepat lelah. Siang hari di musim panas suhu dapat mencapai 40 derajat Celcius.

Karena itulah, kita melihat dilangsungkannya kegiatan sekolah selama Ramadhan di Kab.Kuantan Singingi, selain sensasional juga memaksa kegiatan belajar mengajar setengah hati. Padahal, suasana pengajaran setengah hati jelas tidak efektif.


Harusnya, bagi Pemkab Kuantan Singingi, terutama para pejabat yang bidang pendidikan, pada bulan Ramadhan ini dimanfaatkan untuk mencari tahu penyebab makin memburuknya mutu pendidikan di ibukota Kabupaten ini.


Dengan dasar pemikiran seperti itulah kita berharap pelangsungan kegiatan belajar mengajar di sekolah pada bulan puasa dapat dipikirkan kembali efektivitasnya.


Sebab, bulan puasa yang agung ini harusnya dijadikan momentum berbenah dengan berpikir rasional dan bertindak jujur terhadap kebijakan pendidikan itu sendiri khususnya kebijakan tidak libur selama Ramadhan. (*)
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar