Kamis, 25 Agustus 2011

Aku Bukan Teroris -53


Novel Handoko Adinugroho
Selain itu, jauh sebelumnya, Pak Muslihin juga diketahui pernah berangkat ke Afghanistan. Mengikuti pelatihan militer di sana. Bahkan Pak Muslihin dianggap salah satu peserta pelatihan dari Indonesia yang sangat cerdas. Beliau bisa cepat menguasai apa pun yang diajarkan. Karena kecerdasan beliau pulalah kemudian setelah lulus dari akademi militer di
Afghanistan beliau dikirim ke Mindanao. Di sana justru Pak Muslihin memberi pelatihan militer. Hasil pendidikan yang diterima di Afghanistan diterapkan dan diajarkan di sana.
Di Mindanao, Pak Muslihin juga turut terjun langsung bersama pasukan gerilyawan Moro, pasukan Muslim yang merasa terusir dan dizalimi oleh penguasa setempat. Sepulang dari Mindanao, Pak Muslihin memang tidak kembali ke Indonesia karena situasi yang belum memungkinkan. Pak Muslihin masih menjadi sorotan. Karena itulah, beliau lebih dulu singgah di Malaysia selama beberapa waktu hingga menikah dengan Bu Abidah.
Sebelum menikah, Pak Muslihin sempat pula turun ke Ambon dan Aceh. Di Ambon, beliau hanya memantau perkembangan situasi di sana. Dulu, sebelum ke Afghanistan, beliau memang sempat ikut berjihad di Ambon. Sedangkan di Aceh, beliau masuk secara diam-diam. Beliau juga ingin mengetahui perkembangan situasi di sana, termasuk sesungguhnya ingin mengajak ibu Bu Abidah untuk berangkat ke Malaysia. Namun malang, takdir berkehendak lain.” Aku mendengarkan tanpa berkedip. Aku heran mengapa lelaki ini seperti tahu benar sepak terjang suamiku selama ini. “Bagaimana Bapak-bapak bisa tahu secara detil perihal suami saya?” Lelaki yang tadi memberi penjelasan panjang lebar tersenyum. “Kami ini pengacara, Bu Abidah. Kami harus tahu secara detil calon-calon klien kami berikut siapa saja yang ada di lingkungannya. Hampir semua orang yang disangka terlibat dalam kasus ini, kami tahu secara detil. Bagaimana kami akan memberi pembelaan jika kami tak tahu siapa yang kami bela?” “Kalau itu saya tahu. Tetapi saya heran, dari mana Bapak-bapak bisa tahu semua itu? Sedangkan saya sendiri sebagai istrinya pun belum pernah tahu sedetil itu.” “Kami kumpulkan semua keterangan, Bu. Terus terang saja, saat ini, Pak Muslihin sangat dicari oleh pihak berwajib. Pak Muslihin bahkan dianggap sebagai salah satu orang terdekat Noordin M Top.” “Siapa itu?” “Beliau warga Malaysia yang selama ini dicari-cari aparat karena diduga sebagai dalang di balik semua peristiwa peledakan bom di Indonesia. Berkali-kali tempat beliau digerebek, namun beliau sudah lebih dulu bisa lolos. Nah, Pak Muslihin disangka termasuk salah satu orang kepercayaan Noordin.” “Jika benar, apa yang dilakukan suami saya?” “Berdasarkan informasi yang kami kumpulkan, Pak Muslihin memang tidak terlibat secara langsung dalam aksi itu. Namun Pak Muslihin yang menyiapkan peralatannya. Khususnya handphone yang menjadi detonator dari peledakan itu.” “Handphone jadi detonator bagaimana, Pak?” “Aparat meyakini, bom diledakkan dari jarak jauh menggunakan detonator atau alat pemicu ledakan. Nah detonator yang digunakan disinyalir adalah handphone yang disiapkan oleh Pak Muslihin. Perlu pula Bu Abidah ketahui, aparat juga mensinyalir Pak Muslihin sempat melatih beberapa orang untuk membuat detonator itu. Pelatihan tersebut berlangsung di sini. Di rumah ini.”
Aku terkejut. Apakah orang-orang yang sering kemari itu adalah mereka yang sedang belajar membuat handphone menjadi sebuah detonator? Bukankah mereka mengaku belajar menyervis? Apakah suamiku berdusta?
“Agar kegiatan mereka tidak terlihat menonjol, mereka mengaku belajar menyervis handphone di sini, Bu. Mereka pura-pura belajar memperbaiki handphone yang rusak. Padahal sesungguhnya mereka belajar bagaimana caranya agar sebuah handphone bisa menjadi alat pemicu ledakan. Orang yang sangat menguasai masalah itu adalah Pak Muslihin.” Aku mengangguk. Setengah tak percaya. Benarkah penjelasan mereka?
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar